Pengertian pola asuh adalah ragam
asuhan yang diberikan kepada anak agar anak dapat mencapai harapan atau tujuan
perkembangan yang diinginkan. Pola asuh menunjukkan sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi
dengan anaknya. Cara orang tua menerapkan aturan, mengajarkan nilai atau
norama, memberi perhatian dan kasih sayang, serta menunjukkan sikap dan
perilaku yang baik sehingga dapat dijadikan contoh atau teladan bagi anaknya.
D Baumridd membagi pola asuh pengarahan
menjadi tiga, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh
demokratis. Sedangkan Ronald P Rohner menjelaskan pengasuhan berdasarkan
dimensi kehangatan yaitu penerimaan dan penolakan orang tua terhadap anak.
Serta Socha dan Stamp menjelaskan pengasuhan anak berdasarkan dimensi yang
terdiri dari pemaksaan kekuatan, penarikan kasih sayang dan induksi.
1. Pola
Asuh Otoriter
Dalam pola
asuh ini, orang tua sangat dominant dalam menentukan kehidupan anaknya, baik
dalam menyusun serangkaian peraturan maupun mengawasi anak dengan sangat teliti
sehingga anak kehilangan kebebasan dan kemandirian untuk bertingkah laku karena
aturan yang kaku atau telat.
2. Pola
Asuh Permisif
Dalam pola
asuh ini, orang tua membebaskan keinginan anak untuk menyenangkan hati anak
akibat dari kesibukan orang tua di luar rumah. Orang tua di sini memberikan
kebebasan bagi anak untuk menentukan kehidupannya walaupun perbuatan yang
dilakukan oleh anak itu salah, namun orang tua tidak melarangnya. Sehingga pola
asuh seperti ini akan berdampak negatif bagi anak, seperti suka melawan, tidak
percaya diri, arogan, dan lain-lain.
3. Pola
Asuh Demokratis
Dalam pola
asuh ini, orang tua demokratis bersikap menjelaskan tuntunan pada anak dengan
responsive terhadap kebutuhan anak, menyusun standar yang jelas dan mengawasi
serta mengarahkan tingkah laku yang tepat untuk usia perkembangan dan
pertumbuhan anak.
4. Pola
Asuh Penerimaan Orang Tua ( Parental Acceptance )
Rohner
menjelaskan bahwa penerimaan orang tua dengan kehangatan, kasih sayang dan
cinta yang diberikan oleh orang tua pada anaknya melalui dua macam ekspresi,
yaitu secara fisik dan verbal. Kehangatan secara fisik misalnya: memeluk,
mencium, membelai, tersenyum. Sedangkan kehangatan secara verbal seperti :
memuji, merayu, mengatakan hal-hal yang menyenangkan.
5. Pola
Asuh Penolakan Orang Tua ( Parental Rejection )
Ronald P
Rohner menjelaskan penolakan orang tua berarti tidak diberikannya kehangatan,
kasih sayang, dan cinta dari orang tua kepada anaknya secara psikis, fisik, dan
verbal, yaitu:
a. Sikap permusuhan dan agresi (
Hostility and aggression )
b. Sikap
tidak peduli dan melalaikan ( Indifferene and neglect)
c. Perasaan tidak dicintai (
Indifferentiated Regection )
6. Pola Asuh Pemaksaan Kekuatan (
Power Assertion )
Socha dan Stamp menjelaskna
pangasuhan anak berdasarkan dimensi yang terdiri dari pemaksaan kekuatan,
penarikan kasih sayang, dan induksi. Orang tua menerapkan disiplin dengan menggunakan teknik paksaan, ancaman,
dan hukuman fisik tanpa penjelasan dan diskusi mengapa perintah itu harus
dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar anak mematuhi orang tua secara mutlak.
7. Pola
Asuh Penarikan Kasih Sayang ( Love with Drawal )
Socha dan
Stamp menjelaskan pengasuhan anak berdasarkan dimensi displin melalui penarikan
kasih sayang. Penarikan kasih sayang yang dilakukan oleh orang tua dalam
bentuk: penolakan kepada anak, bentuk kemarahan secara non fisik kepada anak,
mengisolasi anak, dan mengungkapkan ketidaksenangan kepada anak.
8. Pola
Asuh Induksi ( Induction )
Socha dan
Stamp menjelaskan pengasuhan anak berdasarkan dimensi disiplin melalui induksi.
Cara orang tua mengasuh anak dalam menerapkan disiplin dilaksanakan dengan
induksi atau penjelasan dan konsekuensi serta rasionalisasi atas segala
perbuatan anak.
Jadi dapat disimpulkan, pengasuhan yang
diterapkan orang tua yang ideal adalah kombinasi atau campuran dari ketiga
dimensi pola asuhan pengarahan, kehangatan, dan disiplin tersebut. Akan tetapi
pola asuh yang diterapkan kepada anak biasanya ada yang lebih dominan.
Langkah
orang tua mengasuh anak yang bijaksana
adalah:
a.
memberikan cinta kasih sesuai dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhan anak
b.
menghargai anak sesuai dengan kondisi fisik dan psikis berdasarkan usianya.
c.
memberikan hak anak secara utuh sesuai dengan menyiapkan kehidupan yang layak
bagi anak.
d. memahami
advokasi anak
e.
menggunakan kata yang santun dalam berkomunikasi dan menegur anak.
f.
memberikan teladan dalam kehidupan beragama, kehidupan sosial dan kewaspadaan
diri.
[1] Luluk Aswan, s.s.,m.pd. (2009), pendidikan Anak Usia Dini dalam
Keluarga: mendidik dengan praktik, senyum media press. h.h.18-28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar